Bahasa Indonesia English
PENGUMUMANSELAMAT DATANG DI WEBSITE DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH (DPRD) KABUPATEN LAMPUNG BARAT, http://www.dprd-Lampungbaratkab.go.id

Ratu Luwak Perintis Kopi Luwak Lampung

Bookmark and Share
25 Januari 2016 - 13:13:47 » Diposting oleh : » Hits : 1525 » Berita Pemkot
Ratu Luwak Perintis Kopi Luwak Lampung

PERINTIS usaha kopi luwak di Lampung Barat sejak 2007, Sapri dan sang istri, Sri Wiyatmi, kini berupaya terus mengenalkan kopi asal daerahnya dengan berbagai cara. Bahkan, usaha kopi luwak yang ditekuninya bersama pasang surutnya perekonomian daerah itu kini telah mendapatkan izin menyelenggarakan sertifikasi produk kopi luwak di Provinsi Lampung.

Tak hanya sampai di situ, pasangan Sapri-Sri Wiyatmi yang juga pemilik merek dagang "Ratu Luwak" di Lampung Barat ini adalah usaha yang pertama memperoleh izin halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) nasional.

Sekitar 16 pengusaha kopi luwak di Lampung Barat yang mereka bina dan telah mengantongi sertifikat pengolahan kopi luwak yang dikeluarkan Asosiasi Kopi Luwak Indonesia (AKLI) dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Sapri dan Sri berkeinginan kopi luwak asal Lampung Barat terus mendapatkan tempat di pasar internasional dan masyarakat bisa merasakan hasil dari itu semua.

Diwawancarai di kediamannya yang juga tempat produksi kopi luwak di Gang Pekonan No. 98, Way Mengaku, Liwa, Lampung Barat, Kamis (21/1/2016), Sapri dan istrinya mengaku awalnya karena ikut coba-coba yang akhirnya membawa pasangan ini sukses. "Saat itu memang ikut tertarik bisnis kopi luwak, karena pada 2006 kopi jenis ini sangat terkenal dan diminati dengan harga jual yang mahal," kata Sapri sambil memeriksa kandang-kandang musangnya.

Bermula dari menampung hasil-hasil kopi yang masih bercampur kotoran luwak yang diperoleh secara alami di hutan oleh para petani sejak 2007, akhirnya pasangan ini berhasil menangkarkan hewan liar tersebut. “Awalnya kami berpikir, kenapa tidak luwaknya saja yang kami ambil dan rawat supaya menghasilkan lebih banyak kopi luwak," kata Sri.

Dari yang awalnya hanya memelihara dua ekor binatang musang (luwak), Sapri dan Sri kini memiliki 100 lebih luwak yang ditangkar di kediamannya. Luwak diperoleh dari para petani yang sempat menangkap musang.

Menurut Sapri, mereka juga sempat terbentur dengan aturan perizinan karena hewan luwak atau juga dikenal dengan musang termasuk jenis hewan yang dilindungi.

“Susahnya pertama kali ya diproses perawatan karena memang masih sangat kurang sekali teratur tentang pengembangbiakan luwak, akhirnya kami belajar autodidak. Saat itu kami hanya berpikir tumbuhan dan hewan diciptakan mengabdi kepada manusia, kami juga sudah mengurus semua perizinan, untuk musang bulan dan pandan," ujar Sri.

Memulai dari memelihara dua ekor musang, keduanya mengaku mampu menghasilkan 7 kg kopi luwak per bulan. Namun, saat ini kopi luwak yang diproduksi, Ratu Luwak, mencapai kisaran 5 ton per tahun. Dengan omzet sekitar Rp100 juta/bulan dari kopi yang dibanderol sekitar 1 juta per kilogramnya.

Sri juga mengaku memelihara luwak memang harus mencurahkan semua kasih sayang ke binatang penyuka buah itu. "Setiap hari kami merawat mereka sudah seperti anak-anak sendiri, mengupayakan makanan yang cukup dan bergizi. Selain memberikan kopi, kami berikan buah lainnya, seperti pisang, pepaya, hingga memberikan susu dan telur," kata Sri.

Setelah mampu menangkar banyak musang, sampai berhasil mengawinkan dan menghasilkan anak-anak musang baru, mereka berdua berkeinginan supaya bisa menjadi tempat sertifikasi penangkaran dan pengolahan kopi luwak. "Sudah ada yang melahirkan dari pasangan Papa dan Pupu, kami juga berusaha supaya penangkaran ini senatural mungkin. Kini Papa dan Pupu sudah dua kali melahirkan dan saat ini sedang hamil," ujar Sri menunjukkan si musang yang diberi nama Papa dan Pupu.

Berhasil menangkarkan musang, Sapri mengaku bertekad supaya kopi luwak asal Lampung Barat diakui dunia. Sapri mengaku sejak 2014 telah mengajukan supaya usaha kopi luwaknya bisa menjadi percontohan sehingga dapat menyelenggarakan sertifikasi para pengusaha yang sama.

“Tahun 2014, kami sudah disurvei, tetapi memang saat itu masih dianggap belum memenuhi syarat, akhirnya kami terus berbenah memperbaiki kandang sesuai standar, dan lainnya. Akhirnya tahun ini kami sudah dianggap layak dan dipercaya untuk tempat sertifikasi pengusaha kopi luwak pertama di Lampung, bahkan termasuk di Sumatera,” ujar Sapri.

Akhirnya, kini Sapri dan Sri menjadi salah satu pengusaha kopi luwak yang terus berusaha mengedukasi para pengusaha kopi luwak lainnya di Liwa, dengan mengadakan berbagai pendampingan, penyuluhan, hingga sosialisasi aturan pemerintah. Juga membuka kerja sama dengan berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta, untuk mendampingi pada para pengusaha kopi luwak yang masih bertahan.

“Kawan-kawan yang mau memelihara luwak, kita sering sering bertemu dan mengobrol. Kami bantu dalam pemasaran karena terkadang punya produk, tetapi kesulitan untuk menjualnya. Jadi kami bersama-sama berusaha supaya kopi luwak Lampung, khususnya Lampung Barat, dapat terus dikenal dunia," ujar Sapri.

Meskipun Sri berstatus PNS di lingkungan Pemkab Lampung Barat, ia benar-benar berkonsentrasi pada usaha tersebut hingga akhirnya menjadi penilai pertama di Lampung yang memegang sertifikasi untuk mengadakan sertifikasi pengusaha kopi luwak.

“Saya sudah mengikuti uji kompetensi. Pengolah kopi luwak. Belajar di Jakarta selama 10 hari tentang bagaimana melaksanakan standar budi daya luwak sebagai usaha kopi luak. Hasilnya kini di Lampung saya assessor pertama" ujar Sri dengan bangga.

Di bawah binaan Ratu Luwak yang dirintis Sapri dan Sri, sedikitnya kini ada 16 pengusaha serupa yang telah mengantongi sertifikat dan telah menjalankan usaha kopi luwak tanpa berbenturan dengan aturan yang ada.

"Perkara pasar, mari kita angkat bersama-sama, tetapi komitmenlah yang harus kami jaga. Menjaga standar harga, hingga menghindari pembantaian luwak karena hewan tersebut bagaimanapun telah menjadi penghasilan bagi sebagian masyarakat Lampung Barat, dan membawa nama daerahnya hingga mancanegara," ujarnya.(Lampost.co)

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar

  • Nama
  • URL
  • Komentar
  • Kode Verifikasi
  • 126 + 1 = ?